Pandangan GKI Tentang Kerja dan Karir

 

Dasar pandangan GKI tentang kerja dan karir adalah mengalami dan menjalankan hidup berdasarkan panggilan memberi orientasi dasariah bagi totalitas kehidupan sehari-hari. Panggilan yang dimaksud adalah panggilan universal dari Allah (Vocation–Vocatio). Ini berarti kehidupan kita dijalankan begitu rupa sehingga nilai dan pengajaran Firman Allah menjadi ungkapan kepribadian serta pengungkapan karunia spiritual dan talenta kita. Di kalangan profesional dan penggemar buku management, Steven Covey dalam The 8th Habit menggunakan istilah Voice untuk panggilan yang dimaksud.

Panggilan juga berarti kehidupan kita tidak terarah pada diri sendiri, kepentingan keluarga, bisnis, karir/pekerjaan atau kemanusiaan semata-mata, melainkan terarah kepada Allah. Itulah sebabnya, mengutip istilah dalam The 8th Habit, kita bergerak dari Effectiveness menuju Greatness. Dengan menemukan panggilan kita ikut ambil bagian dalam pekerjaan dan rencana Allah yang maha besar dan karenanya memberikan dampak yang luar biasa.

Pandangan yang beranggapan bahwa setiap orang kristen “awam” yang serius dengan panggilannya mesti beralih ke dalam kelompok “rohaniwan” adalah keliru. Berkomitmen kepada panggilan Allah bukanlah kewajiban untuk selalu tergabung ke dalam kalangan “rohaniwan/ti” (pendeta, penginjil) sebagaimana yang lazim dipahami oleh pandangan “Kristiani” yang menganggap profesi-profesi di luar rohaniwan/ti lebih rendah, tidak sakral dan tidak mengandung unsur panggilan Allah.

Paulus dalam Surat Pertama kepada Jemaat Korintus mengemukakan ada rupa-rupa karunia dan Allah “memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” (1 Kor. 12:11). Ini berarti walaupun semua orang dipanggil oleh Allah namun setiap orang menerima panggilan yang khas. Rick Waren dalam The Purpose Driven Life memakai istilah SHAPE (spirituality, Heart, Ability, Personality, Experience) sebagai dasar dari panggilan yang khas tersebut.

Tokoh-tokoh Alkitab yang dipanggil oleh Allah tidak selalu menjadi rohaniwan/ti dalam arti profesi imam yang sempit. Abraham, Bapa orang beriman, tidak dipanggil menjadi imam, Ishak dan Yakub juga tidak. Yusuf malahan dipanggil menjadi pakar analisis masa depan sekelas John Naisbit, pakar manajemen persediaan sekaligus pakar manajemen resiko. Hakim-hakim lebih terpanggil menjadi pembela dan pembebas Israel dari ketertindasan ketimbang menjadi imam. Raja-raja dipanggil untuk menjadi pemimpin bangsa, tapi bukan selaku imam. Musa tidak dipanggil menjadi nabi, melainkan menjadi representasi Israel di hadapan Firaun, kemudian ia menjadi tour leader Israel di padang gurun dan menjadi pengembang hukum (Torah). Yosua dipanggil menjadi pemimpin perjuangan, bukan selaku imam. Panggilan Allah adalah kepada setiap orang percaya.

Dalam situasi ekonomi yang semakin membuat dada sesak, para profesional dan pekerja merasa perlu mengamankan dan memperbesar tingkat penghasilan mereka. Banyak pekerjaan tidak lagi memberikan hasil yang cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Didorong oleh pandangan sekuler bahwa kerja adalah kerja satu-satunya cara untuk mencapai kepuasan diri melalui pemenuhan kebutuhan materi, emosional dan intelektual, orang mulai, dengan sekuat tenaga, mencoba mengambil pekerjaan yang bergaji lebih besar, bahkan mencari yang kedua atau bekerja lembur. Yang juga umum dilakukan saat ini suami-istri bekerja untuk mempertahankan standar kebutuhan, kepuasan dan kehidupan. Dalam kondisi macam itu pastilah sulit melihat, apalagi menghayati panggilan Tuhan melalui kerja yang begitu menguras tenaga dan waktu, tapi menghasilkan begitu “sedikit.”

Namun kerja menurut alkitab, merupakan kerangka utama dari eksistensi manusia ketika ia diciptakan, sebagaimana dikemukakan dalam Kej. 2:15; “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kerja dalam konteks ini adalah amanah dari Allah sendiri. Oleh sebab itu, dalam kerja sehari-hari kita berjumpa dengan Allah, yang mendorong sekaligus meminta pertanggungjawaban atas kerja yang dipercayakan. Karena itu, berlawanan dengan “pandangan yang seimbang,” kerja dalam dirinya sendiri memiliki nilai intrinsik karena amanah yang mendasarinya.

Jadi mestinya kerja profesional adalah ibadah, yaitu penyembahan kepada Allah. Bukan sekedar sarana untuk penginjilan atau menyatakan iman. Tempat kerja adalah tempat dan proses di mana kita berjumpa dengan Allah. Kerja adalah wahana respons manusia kepada Allah. Kita memuliakan Allah melalui kerja kita. Kerja adalah bahasa utama dalam merespons panggilan Allah, juga wahana bagi kehidupan beriman. Kerja adalah keutamaan ungkapan dari iman yang otentik. Mengalami panggilan Allah dalam kerja berarti setiap individu dipimpin oleh Allah dan diajak untuk hidup, bekerja dan melayani dalam terang kearifan dan Roh Allah.

‘Profesi sebagai ritual’ mau mendorong setiap orang percaya untuk melihat pekerjaannya sebagai profesi yang sakral atau kait-mengait dengan Allah yang kudus, yakni sebagaimana pendeta melihat profesinya sakral dan berkaitan dengan Allah.

Meja kerja adalah ‘altar’ tempat kita berjumpa dengan Allah. Keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kita adalah wahana nilai-nilai pengajaran dan penyembuhan Kristus mewujud nyata. Metode profesional dan aplikasinya adalah pekerjaan yang diilhami oleh Roh Kudus dan dikerjakan dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Karya-karya hasil profesi adalah wujud-wujud kesaksian dan pemeliharaan Allah di mana di dalamnya terkandung iman kristiani kita. Jika profesi menjadi ritual macam ini, maka nafsu kita untuk menang dan maju sendiri akan mereda, sebab bukan niat kita yang paling utama dalam ritus ini, melainkan niat Allah yang Mahabaik. Banyak hal yang dalam pandangan sekuler disebut sebagai ukuran kebahagiaan, semisal besaran harta, jenjang pangkat, ukiran prestasi, nama baik, keunggulan kompetisi, pencapaian target, besaran profit, pengakuan, bukan lagi sesuatu yang dicari, melainkan sesuatu yang diberi. “Apakah yang ada padamu yang tidak kamu terima,” begitu pertanyaan Paulus yang menantang mereka yang membanggakan apa pun yang dimilikinya.

Paradigma demikian pada setiap kerja profesional ataupun non-profesional akan menjauhkan orang dari kesia-siaan, kebosanan, keluhan, dan tekanan. Sebaliknya, membebaskan dan menyegarkan. Mari kita menekuni dan menjalani profesi masing-masing dengan penuh gairah dan penuh rasa hormat dan tanggung jawab dengan memahami bahwa pekerjaan kita adalah amanah Allah dan keikutsertaan yang penuh sukacita dalam pekerjaan pemeliharaan Allah di dunia ini.

Sumber :  Kolom Bina Warta 7 Juni 2007

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s